Challenger Brand

MENGAMATI ‘pertempuran’ produk antara leader brand dan challenger brand sangat menarik. Andaikan diibaratkan penguasa suatu daerah maka perebutan daerah kekuasaan leader brand oleh chalenger brand penuh dengan ‘gerakan’ baik pengintaian, penyusupan,dan kadang-kadang ‘pertempuran’ yang kesemuanya dalam lingkup taktik dan strategi pemasaran. Sebagai contoh kita bisa lihat kasus ‘pertempuran’ merek LG atau Samsung LCD melawan Toshiba, Mie Sedaap (Wings food) melawan Indomie (Indofood), atau Blackberry (RIM) melawan Communicator (Nokia).
Memang sebagai challenger brand memiliki tugas berat untuk dapat merebut daerah kekuasaan leader brand agar dapat menjadi daerah baru bagi pemasaran produknya. Challenger brand harus secara cermat dapat mengukur diri dan mengukur kekuatan lawan dalam menerapkan strategi pemasarannya, apakah dengan cara gerilya atau justru berani secara head to head dengan leader brand. Sekali challenger brand salah menentukan strategi pemasaran maka pupuslah harapan merebut daerah pemasaran leader brand.
Tetapi tidak ada kekuatan yang mutlak dari leader brand! Ini harus diyakini oleh manajemen bisnis challenger brand agar ia tetap memiliki motivasi kuat untuk ‘berani’ merebut daerah lawan dan melakukan penetrasi pemasaran produk. Kekuatan leader brand yang terkesan tiada tanding seringkali justru membuka peluang walaupun kecil karena kelengahannya menjaga daerah kekuasaannya.
Adapan langkah yang dapat dilakukan oleh manajemen challenger brand adalah: Pertama, identifikasi melalui SWOT Analysis untuk menentukan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, serta peluang dan tantangan yang dihadapi.Kekuatan ini diantaranya keunggulan produk ataupun sumberdaya perusahaan yang dapat dimanfaatkan untuk dapat mengalahkan leader brand dengan ‘menggerogoti’ daerah pemasarannya. Kelemahan perusahaan harus semaksimal mungkin dihindari dengan cara tidak secara langsung berhadapan dengan leader brand. Peluang yang terbuka karena kelemahan leader brand harus dicari secara cermat dan ditentukan taktik meraih peluang tersebut. Misalnya peluang yang muncul dari daerah pemasaran yang terbuka atau bahkan belum disentuh oleh leader brand dapat dijadikan starting point bagi challenger brand untuk mulai ‘masuk dan menguasai’ daerah tersebut. Tantangan yang harus dihadapi karena adanya peluang harus dapat dipenuhi oleh sumberdaya yang ada, baik berupa kekuatan produk (misalnya manfaat dan fitur yang lebih banyak, kualitas yang lebih baik) sehingga konsumen dapat memperoleh nilai yang lebih tinggi dari mengkonsumsi produk dari challenger brand.
Kedua, berusaha menggeser bahkan mengubah top of mind konsumen dari leader brand. Sebagai merek yang menguasai pasar, bukan tugas mudah bagi manajemen bisnis untuk menggeser bahkan mengubah top of mind merek bersangkutan dari benak konsumen. Tetapi dengan keyakinan tinggi dan berdasarkan strategi pemasaran yang dihasilkan melalui SWOT Analysis akan dapat ditentukan taktik-taktik pemasaran yang jitu. Kejenuhan pasar karena adanya penguasaan yang lama dapat menjadi suatu kondisi untuk memasuki pasar dengan memberikan image bahwa produk ‘baru’ yang ditawarkan challenger brand lebih fresh, inovatif, harga kompetitif, kualitas tinggi, manfaat yang lebih banyak, manfaat yang instan (manfaat lebih cepat dapat dirasakan), serta dukungan distribusi yang lebih baik.
Ketiga, manejemen bisnis challenger brand harus dapat menyiapkan ‘kekuatan’ untuk bertempur dalam jangka panjang.Ibarat pelari marathon maka manajemen bisnis challenger brand harus dapat mengatur nafas dan langkahnya sehingga tercipta ‘irama perang’ yang baik agar tidak kehabisan nafas ketika bertempur melawan leader brand dalam jangka panjang. Perencanaan bisnis yang cermat dengan skedul waktu dan target yang tidak terlalu muluk akan dapat memberikan arah yang lebih realistis dalam mengejar dan meraih target pemasaran.

0 komentar:

Posting Komentar

About this blog

Labels