Pemasaran BlackBerry


PEMASARAN PDA/smartphone BlackBerry (BB) sedang menjadi sorotan banyak fihak, seiring makin pesatnya penjualannya di Indonesia. Pemasaran BB menjadi fenomena yang menarik mengingat keberhasilan PDA/smartphone ini merebut hati pengguna PDA/smartphone di tengah persaingan penjualan produk PDA/smartphone yang sangat ketat.
BB lahir tahun 2001 oleh Research In Motion (RIM) dari Ontario Canada dan masuk ke pasar Indonesia sekitar tahun 2004. Pada awalnya BB dijual melalui blackmarket karena belum ada kerjasama resmi antara RIM dengan penjual di Indonesia. RIM memanfaatkan blackmarket untuk mulai mengenalkan produk baru BB ke pengguna PDA/smartphone di Indonesia di antaranya melalui keunggulan produk dalam push e-mail.
Seiring terbukanya pasar BB maka pemasaran BB di Indonesia mulai ditata lebih baik di antaranya melalui: (a) Kerjasama dengan operator telekomunikasi Indonesia ternama (Indosat, Telkomsel, dan XL) dan pemasar PDA/smartphone. Menggandeng operator telekomunikasi Indonesia ternama dan pemasar PDA/smartphone tersebut dilakukan RIM untuk memperluas dan mempercepat peningkat penjualan serta pelayanan kepada pengguna BB. Berbagai kemudahan bagi pengguna BB diberikan oleh pemasar dan vendor. (b) Membangun community branding yang kuat di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Kerjasama saling menguntungkan antara komunitas pengguna BB, pemasar dan vendor ini sengaja dibangun untuk memperkuat brand image dan meningkatkan penjualan BB. Dengan semakin banyaknya fasilitas BB yang digunakan pengguna BB maka vendor juga memperoleh keuntungan. Misalnya dari SMS, email yang dikirim serta data-data yang di unduh.
(c) Melakukan penjualan paket (bundling). Strategi penjualan BB di antaranya adalah melalui penjualan bundling pasca bayar serta perluasan penjualan melalui outlet BB. (d) Selalu menghadirkan model BB terbaru di pasar Indonesia untuk memikat konsumen dan menunjukkan selalu adanya inovasi produk. Model BB terbaru yang muncul di pasar Indonesia tahun 2008-2009 ini adalah BB Bold 9000, BB Curve 8900 dan BlackBerry Pearl Flip 8220, dengan fitur terkini di antaranya internet browser, BlackBerry Messenger, WiFi, GPS, resolusi layar yang tinggi, push e-mail, SMS, voice dan prosesor mutakhir.
(e) Memanfaatkan fenomena penggunaan BB oleh Presiden Obama untuk memperkuat brand image. Kegandrungan Obama dalam menggunakan BB dimanfaatkan secara optimal oleh pemasar BB dengan bantuan media sehingga dapat memperkuat brand image BB sebagai PDA/smartphone berkualitas, berteknologi tinggi dan disukai elite setingkat presiden AS. Seorang eksekutif dari agen periklanan Arnold Worldwide yaitu Fran Kelly, berani memperkirakan endorsement yang secara tidak langsung dilakukan oleh Obama bernilai sedikitnya US$ 25 juta. Bahkan ada yang memberikan nilai yang lebih tinggi dari Fran Kelly yaitu mencapai US$ 50 juta, karena endorsement Obama tersebar di seluruh dunia.
(f) Memperluas pangsa pasar dari kelompok korporat ke individual. Awalnya BB membidik kelompok korporat (bisnis) sebagai pasar sasaran utama pengguna BB tetapi seiring dengan terbukanya peluang pasar, perkembangan penjualan BB mengalami pergeseran yang signifikan. Kini pengguna PDA/smartphone BB di Indonesia justru didominasi oleh pengguna individual, dengan persentase penjualan BB ke kelompok individual sekitar 70% sedangkan ke kelompok korporat (bisnis) hanya sekitar 30%.
g) Menjadikan BB life style bagi penggunanya. Seiring makin meluasnya pengguna BB maka produsen kemudian berusaha menjadikan BB sebagai life style baru yang akan memberikan nilai tambah bagi penggunanya sebagai manusia modern dengan gaya hidup dinamis yang memiliki jejaring kuat dan luas, serta selalu memiliki informasi terbaru.

Challenger Brand

MENGAMATI ‘pertempuran’ produk antara leader brand dan challenger brand sangat menarik. Andaikan diibaratkan penguasa suatu daerah maka perebutan daerah kekuasaan leader brand oleh chalenger brand penuh dengan ‘gerakan’ baik pengintaian, penyusupan,dan kadang-kadang ‘pertempuran’ yang kesemuanya dalam lingkup taktik dan strategi pemasaran. Sebagai contoh kita bisa lihat kasus ‘pertempuran’ merek LG atau Samsung LCD melawan Toshiba, Mie Sedaap (Wings food) melawan Indomie (Indofood), atau Blackberry (RIM) melawan Communicator (Nokia).
Memang sebagai challenger brand memiliki tugas berat untuk dapat merebut daerah kekuasaan leader brand agar dapat menjadi daerah baru bagi pemasaran produknya. Challenger brand harus secara cermat dapat mengukur diri dan mengukur kekuatan lawan dalam menerapkan strategi pemasarannya, apakah dengan cara gerilya atau justru berani secara head to head dengan leader brand. Sekali challenger brand salah menentukan strategi pemasaran maka pupuslah harapan merebut daerah pemasaran leader brand.
Tetapi tidak ada kekuatan yang mutlak dari leader brand! Ini harus diyakini oleh manajemen bisnis challenger brand agar ia tetap memiliki motivasi kuat untuk ‘berani’ merebut daerah lawan dan melakukan penetrasi pemasaran produk. Kekuatan leader brand yang terkesan tiada tanding seringkali justru membuka peluang walaupun kecil karena kelengahannya menjaga daerah kekuasaannya.
Adapan langkah yang dapat dilakukan oleh manajemen challenger brand adalah: Pertama, identifikasi melalui SWOT Analysis untuk menentukan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki, serta peluang dan tantangan yang dihadapi.Kekuatan ini diantaranya keunggulan produk ataupun sumberdaya perusahaan yang dapat dimanfaatkan untuk dapat mengalahkan leader brand dengan ‘menggerogoti’ daerah pemasarannya. Kelemahan perusahaan harus semaksimal mungkin dihindari dengan cara tidak secara langsung berhadapan dengan leader brand. Peluang yang terbuka karena kelemahan leader brand harus dicari secara cermat dan ditentukan taktik meraih peluang tersebut. Misalnya peluang yang muncul dari daerah pemasaran yang terbuka atau bahkan belum disentuh oleh leader brand dapat dijadikan starting point bagi challenger brand untuk mulai ‘masuk dan menguasai’ daerah tersebut. Tantangan yang harus dihadapi karena adanya peluang harus dapat dipenuhi oleh sumberdaya yang ada, baik berupa kekuatan produk (misalnya manfaat dan fitur yang lebih banyak, kualitas yang lebih baik) sehingga konsumen dapat memperoleh nilai yang lebih tinggi dari mengkonsumsi produk dari challenger brand.
Kedua, berusaha menggeser bahkan mengubah top of mind konsumen dari leader brand. Sebagai merek yang menguasai pasar, bukan tugas mudah bagi manajemen bisnis untuk menggeser bahkan mengubah top of mind merek bersangkutan dari benak konsumen. Tetapi dengan keyakinan tinggi dan berdasarkan strategi pemasaran yang dihasilkan melalui SWOT Analysis akan dapat ditentukan taktik-taktik pemasaran yang jitu. Kejenuhan pasar karena adanya penguasaan yang lama dapat menjadi suatu kondisi untuk memasuki pasar dengan memberikan image bahwa produk ‘baru’ yang ditawarkan challenger brand lebih fresh, inovatif, harga kompetitif, kualitas tinggi, manfaat yang lebih banyak, manfaat yang instan (manfaat lebih cepat dapat dirasakan), serta dukungan distribusi yang lebih baik.
Ketiga, manejemen bisnis challenger brand harus dapat menyiapkan ‘kekuatan’ untuk bertempur dalam jangka panjang.Ibarat pelari marathon maka manajemen bisnis challenger brand harus dapat mengatur nafas dan langkahnya sehingga tercipta ‘irama perang’ yang baik agar tidak kehabisan nafas ketika bertempur melawan leader brand dalam jangka panjang. Perencanaan bisnis yang cermat dengan skedul waktu dan target yang tidak terlalu muluk akan dapat memberikan arah yang lebih realistis dalam mengejar dan meraih target pemasaran.

About this blog

Labels